Bagi banyak orang, Idul Adha identik dengan momen penyembelihan hewan kurban, sholat Ied yang khidmat, dan tentu saja, hidangan lezat olahan daging. Tapi, pernahkah kamu bertanya-tanya, apa yang terjadi setelah hari raya itu sendiri? Kenapa kalender libur nasional seringkali mencantumkan tanggal tambahan setelah tanggal 10 Dzulhijjah? Nah, di sinilah kita akan membahas tentang hari tasyrik Idul Adha, tiga hari yang sering luput dari perhatian padahal punya makna dan keutamaan yang sangat besar dalam syariat Islam.
Hari Tasyrik bukan sekadar hari libur tambahan untuk melanjutkan acara makan-makan. Ia adalah rangkaian waktu yang terikat erat dengan ibadah haji dan kurban, penuh dengan dzikir dan larangan khusus. Mari kita telusuri lebih dalam apa itu Hari Tasyrik, kapan terjadinya, serta amalan-amalan apa saja yang dianjurkan dan yang justru dilarang di dalamnya.
Apa Sebenarnya Hari Tasyrik Itu?
Secara bahasa, "Tasyrik" berasal dari kata syaraqa yang artinya terbit atau meninggi. Ada juga yang mengaitkannya dengan tasyriq yang berarti menjemur daging kurban di bawah terik matahari. Praktik ini dulu umum dilakukan oleh para jamaah haji untuk mengawetkan daging kurban mereka sebelum adanya teknologi pendingin. Jadi, secara istilah, hari tasyrik Idul Adha adalah tiga hari setelah hari nahar (penyembelihan), yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah.
Jadi, urutannya begini: tanggal 10 Dzulhijjah adalah Hari Raya Idul Adha (Yaumun Nahr), lalu disusul oleh tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah yang disebut Hari Tasyrik. Ketiganya adalah hari dimana umat Islam, terutama yang sedang menunaikan ibadah haji, masih berada dalam suasana ibadah dan dilarang untuk berpuasa.
Koneksi Spiritual dengan Rangkaian Ibadah Haji
Hari Tasyrik punya ikatan yang tak terpisahkan dengan ritual haji. Bagi jamaah haji, hari-hari ini adalah waktu mereka melaksanakan lempar jumrah di Mina. Setiap tanggal 11, 12, dan 13, mereka melemparkan batu kecil ke tiga jamrah (Jamrah Ula, Wustha, dan Aqabah) sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan. Aktivitas ini membuat suasana ibadah tetap terasa kental, tidak berhenti begitu saja setelah penyembelihan kurban.
Bagi kita yang tidak berhaji, Hari Tasyrik adalah waktu untuk terus mengingat Allah, memperbanyak syukur, dan tentu saja, menikmati rezeki berupa daging kurban dengan cara yang baik dan sesuai tuntunan.
Amalan yang Dianjurkan Selama Hari Tasyrik
Nah, biar nggak cuma jadi hari libur biasa, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengisi hari tasyrik Idul Adha dengan pahala. Amalan-amalan ini sederhana, tapi punya nilai yang tinggi.
Memperbanyak Dzikir dengan Kalimat Khusus
Ini adalah amalan utama yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa hari-hari Tasyrik adalah hari untuk makan, minum, dan banyak mengingat Allah. Bentuk dzikir yang disunnahkan adalah membaca takbir mutlaq, yaitu takbir yang tidak terikat waktu, bisa diucapkan kapan saja.
Takbir ini biasanya berbunyi: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd." Kamu bisa membacanya setelah sholat fardhu, saat berjalan, atau di sela-sela aktivitas. Suasana takbir yang masih berkumandang setelah Idul Adha ini seolah memperpanjang euforia kemenangan spiritual.
Menyantap Hidangan dari Daging Kurban
Ini bagian yang mungkin paling dinanti-nanti! Hari Tasyrik adalah waktu yang tepat untuk menikmati daging kurban, baik yang berasal dari hewan kurban sendiri maupun yang dibagikan oleh orang lain. Islam menganjurkan untuk memakan sebagian dari daging kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan. Jadi, jangan ragu untuk memasak rendang, sate, gulai, atau semur dengan penuh kegembiraan dan niat beribadah.
Tapi ingat, etikanya adalah memprioritaskan yang terbaik untuk diri sendiri dan keluarga dulu, baru kemudian dibagikan. Jangan sampai semua daging langsung diberikan semua sehingga kita sendiri tidak merasakan berkahnya.
Melanjutkan Semangat Berbagi
Meski sudah membagikan daging pada hari Id, semangat berbagi di Hari Tasyrik bisa terus berlanjut. Kamu bisa berbagi masakan olahan daging yang sudah matang kepada tetangga, saudara, atau orang yang mungkin terlewat pada pembagian awal. Atau, bentuk berbagi lainnya seperti sedekah atau membantu orang lain. Intinya, menjaga kebersamaan dan kepedulian sosial.
Larangan yang Perlu Diperhatikan di Hari Tasyrik
Selain anjuran, ada juga larangan yang cukup tegas selama hari tasyrik Idul Adha. Larangan ini menunjukkan betapa istimewanya hari-hari tersebut.
Haramnya Berpuasa
Ini adalah poin penting! Berpuasa pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah adalah haram hukumnya, kecuali bagi jamaah haji yang sedang melaksanakan haji tamattu' atau qiran yang tidak memiliki hewan hadyu (dam). Bagi kita yang di rumah, hari-hari ini adalah hari untuk makan dan minum. Jadi, rencana puasa sunnah atau puasa pengganti (qadha) Ramadhan harus ditunda dulu.
Rasulullah SAW bahkan dengan jelas menyatakan, "Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah." Jadi, nikmatilah rezeki yang ada.
Menyia-nyiakan Waktu dengan Hal Tidak Berguna
Karena Hari Tasyrik adalah hari yang dimuliakan, sebaiknya kita menghindari aktivitas maksiat atau hal-hal yang sia-sia. Ciptakan atmosfer positif di rumah, perbanyak silaturahmi yang baik, dan jauhi perkataan kotor atau perbuatan yang bisa mengurangi kesakralan hari-hari tersebut.
Perspektif Modern: Makna Hari Tasyrik di Tengah Kesibukan
Di era sekarang, di mana libur panjang sering dimaknai sebagai waktu untuk jalan-jalan atau sekadar rebahan di rumah, memahami esensi hari tasyrik Idul Adha menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana kita bisa mengaplikasikannya?
Pertama, kita bisa memanfaatkan momen libur ini untuk quality time dengan keluarga sambil mengingatkan anak-anak tentang makna takbir dan kisah Nabi Ibrahim. Kedua, momen masak bersama olahan daging kurban bisa jadi aktivitas bonding yang seru dan penuh berkah. Ketiga, meski mungkin kita pergi berwisata, sempatkanlah untuk tetap melantunkan takbir dan menghindari tempat atau aktivitas yang jelas-jelas melanggar syariat.
Intinya, fleksibilitas itu ada. Yang penting adalah niat dan usaha untuk tetap menghidupkan sunnah dalam konteks kehidupan kita sekarang.
Membedah Beberapa Mitos dan Salah Kaprah Seputar Hari Tasyrik
Tak jarang, https://arnanderson4ever.com beredar pemahaman yang kurang tepat soal hari-hari ini. Mari kita luruskan satu per satu.
- Mitos 1: "Dilarang mencukur rambut atau memotong kuku selama Hari Tasyrik." Larangan ini sebenarnya khusus bagi orang yang akan berkurban, dan waktunya adalah sejak masuk bulan Dzulhijjah hingga hewannya disembelih. Setelah menyembelih kurban (di hari Id atau di Hari Tasyrik), larangan ini sudah tidak berlaku lagi.
- Mitos 2: "Semua daging kurban harus habis dibagikan di hari Id." Faktanya, kita justru dianjurkan menyimpan, mengolah, dan memakan sebagiannya selama Hari Tasyrik. Pembagian bisa berlanjut bahkan setelahnya.
- Mitos 3: "Hari Tasyrik cuma untuk jamaah haji." Meski terkait erat dengan haji, keutamaan dan aturan Hari Tasyrik berlaku untuk seluruh umat Islam di mana pun berada.
Menyelami Hikmah di Balik Penetapan Hari Tasyrik
Setelah melihat berbagai aturan dan anjurannya, pasti ada hikmah besar yang bisa kita petik. Penetapan hari tasyrik Idul Adha mengajarkan kita beberapa hal:
- Kontinuitas Ibadah: Ibadah itu tidak instan dan selesai dalam satu hari. Idul Adha dan ritual haji adalah puncak, tetapi proses penyempurnaannya membutuhkan waktu (tiga hari). Ini mengajarkan kita untuk konsisten dalam ketaatan.
- Keseimbangan Spiritual dan Jasmani: Islam sangat manusiawi. Di hari yang penuh berkah ini, kita justru dilarang berpuasa dan disuruh menikmati makanan. Ini adalah pengakuan bahwa nikmat duniawi, jika disyukuri dan didapatkan dengan cara halal, adalah bagian dari ibadah.
- Penguatan Tali Sosial: Rentang waktu yang lebih panjang untuk menikmati daging kurban memungkinkan distribusi dan silaturahmi yang lebih luas. Bukan sekadar bagi-bagi cepat, tapi ada proses mengolah dan berbagi yang melibatkan kehangatan hubungan.
Sebuah Refleksi Akhir
Jadi, lain kali ketika melihat tulisan "libur Hari Tasyrik" di kalender, ingatlah bahwa itu bukan sekadar hari libur biasa. Itu adalah kesempatan emas untuk memperpanjang momentum spiritual Idul Adha, memperbanyak dzikir, mensyukuri rezeki berupa daging kurban, dan menghindari hal-hal yang dilarang. Dengan memahami dan mengamalkan sunnah di hari tasyrik Idul Adha, kita bisa mengubah hari libur yang pasif menjadi waktu yang aktif bernilai pahala. Selamat menikmati berkah Idul Adha dan Hari Tasyrik, semoga kita semua bisa mengambil hikmah terbesar dari setiap momen ibadah ini.