Kita sering terpana oleh keindahan bunga di puncak mekarnya. Warna-warna cerah, bentuk yang memesona, dan aroma yang semerbak seolah menjadi puncak pencapaian hidupnya. Tapi, pernahkah kamu penasaran, apa yang sebenarnya terjadi setelah proses yang kita kenal sebagai penyerbukan itu selesai? Apa yang terjadi pada bunga setelah melakukan perkembangbiakan? Jawabannya jauh lebih kompleks dan menakjubkan daripada sekadar "layu dan gugur". Ini adalah awal dari sebuah transformasi besar, di mana sang bunga, dengan tugas utamanya selesai, mengalihkan seluruh energinya untuk sebuah misi baru: menciptakan generasi penerus.
Misi Utama Tercapai: Ketika Penyerbukan Berhasil
Mari kita anggap skenario ideal: seekor lebah, kupu-kupu, angin, atau bahkan air telah berhasil memindahkan serbuk sari dari kepala sari ke kepala putik bunga yang kompatibel. Saat itulah "keajaiban" dimulai. Butiran serbuk sari berkecambah di kepala putik, membentuk tabung serbuk sari yang panjangnya bisa luar biasa, yang kemudian menuju ke bakal biji di dalam ovarium. Di sanalah sel sperma bertemu dengan sel telur. Pembuahan terjadi. Dan dengan ini, misi utama bunga—untuk menyatukan gamet jantan dan betina—telah tercapai. Lalu?
Bunga segera beralih peran dari "pemikat" menjadi "pelindung dan penyedia". Seluruh fisiologinya berubah. Ini bukan akhir, melainkan awal babak baru yang sangat penting.
Transformasi Fisik yang Segera Terlihat
Perubahan pertama yang sering kita amati adalah pada mahkota bunga (petal). Kelopak yang sebelumnya berwarna-warni dan menarik perhatian mulai kehilangan fungsinya. Warnanya memudar, teksturnya melunak, dan akhirnya layu. Mereka bisa gugur satu per satu atau tetap menempel dalam keadaan kering. Energi dan nutrisi yang sebelumnya digunakan untuk mempertahankan keindahan mahkota kini dialihkan secara masif ke bagian lain yang lebih krusial: bakal buah dan bakal biji.
Bagian bunga lainnya seperti benang sari (alat kelamin jantan) dan kepala putik juga sering mengering dan gugur. Mereka sudah menyelesaikan tugasnya. Pusat perhatian sekarang berpindah ke ovarium, yang mulai membesar dan mengalami perubahan dramatis.
Ovarium Naik Pangkat: Menjadi Buah yang Beragam
Inilah inti dari jawaban "apa yang terjadi pada bunga setelah melakukan perkembangbiakan". Ovarium yang berhasil dibuahi mengalami perkembangan luar biasa untuk menjadi buah. Tapi, istilah "buah" di sini punya makna botani yang luas, tidak melulu seperti apel atau jeruk yang kita makan.
- Buah Sejati: Terbentuk langsung dari ovarium yang membesar. Contoh klasiknya adalah tomat, kacang panjang, cabai, dan mangga. Dinding ovarium berkembang menjadi pericarp (dinding buah) yang bisa berdaging seperti pada pepaya, atau mengeras seperti pada kacang tanah.
- Buah Semu: Bagian selain ovarium ikut membentuk struktur buah. Contohnya adalah apel dan stroberi. Bagian yang kita makan dari apel sebenarnya adalah dasar bunga (receptacle) yang membengkak, sementara buah sejatinya adalah inti bagian tengah. Pada stroberi, biji-biji kecil di permukaan itulah buah sejatinya, sedangkan bagian merah yang berdaging adalah dasar bunga.
Proses pembentukan buah ini dikendalikan oleh ledakan hormon tumbuhan, terutama hormon auksin dan giberelin yang diproduksi oleh biji yang sedang berkembang. Hormon-hormon ini memacu pembelahan sel dan pengisian nutrisi ke dalam buah.
Di Dalam Buah: Drama Pembentukan Biji
Sementara dinding buah berkembang, di dalamnya, di setiap bakal biji yang dibuahi, terjadi proses lain yang tak kalah penting. Zigot hasil pembuahan berkembang menjadi embrio tumbuhan mini—calon individu baru. Bakal biji itu sendiri matang menjadi biji, dengan cadangan makanan (kotiledon) dan pelindung yang keras (kulit biji).
Biji inilah harta karun sebenarnya, warisan genetik dari kedua induknya. Buah, pada dasarnya, adalah "kendaraan" atau "strategi" yang diciptakan bunga (dan tumbuhan) untuk melindungi dan menyebarkan biji-biji berharga ini.
Strategi Penyebaran: Buah Menjadi "Salesman" yang Ulung
Setelah biji matang, buah harus memastikan keturunannya tidak berkecambah di bawah naungan induknya yang akan bersaing untuk cahaya dan nutrisi. Di sinilah kejeniusan alam bekerja. Bentuk, warna, rasa, dan aroma buah berevolusi untuk menarik agen penyebar yang tepat.
- Hitchhiking dengan Hewan (Zoochory): Buah-buahan berdaging, manis, dan berwarna cerah (merah, ungu, oranye) seperti buni, arbei, atau ceri dirancang untuk dimakan burung atau mamalia. Bijinya yang keras tidak tercerna dan akan tersebar bersama kotoran hewan, lengkap dengan pupuk alami. Buah seperti buah karet atau rumput tertentu punya duri untuk menempel di bulu hewan.
- Terbang dengan Angin (Anemochory): Buah yang ringan dan punya sayap atau bulu, seperti pada mahoni (buah bersayap) atau kapas (berbulu), mengandalkan angin untuk perjalanan jauh.
- Meluncur di Air (Hydrochory): Kelapa adalah contoh sempurna. Buahnya ringan, mengapung, dan kulitnya kedap air, sehingga bisa terbawa arus laut hingga pulau lain.
- Mekanik yang Meledak (Autochory): Beberapa buah, seperti petai cina atau pacar air, mengering dengan tekanan tinggi. Saat matang, sedikit sentuhan saja bisa membuatnya "meledak" dan melontarkan biji-bijinya ke sekeliling.
Bagaimana Jika Penyerbukan Gagal?
Lalu, apa yang terjadi pada bunga setelah melakukan perkembangbiakan jika penyerbuk tidak datang atau serbuk sari tidak kompatibel? Nasibnya jauh lebih singkat dan efisien. Tumbuhan tidak akan membuang-buang energi lebih lanjut. Bunga tersebut biasanya akan gugur seluruhnya—dari tangkai bunganya—dalam waktu yang relatif cepat. Hormon etilen, hormon pematangan dan penuaan, akan memicu proses absisi (pemutusan jaringan di pangkal tangkai bunga) sehingga bunga yang "tidak produktif" itu rontok. Sumber daya yang tersimpan kemudian dialokasikan ke bunga lain yang masih berpotensi, atau untuk pertumbuhan vegetatif seperti daun dan akar.
Dampak pada Tumbuhan Induk Secara Keseluruhan
Transformasi bunga menjadi buah adalah proses yang sangat membutuhkan energi. Kamu bisa melihatnya pada tanaman buah di pekarangan. Setelah masa berbuah yang lebat, tanaman sering terlihat "kelelahan". Pertumbuhan daun atau tunas baru mungkin melambat karena sumber daya terkonsentrasi untuk mematangkan buah dan biji. Inilah mengapa pemupukan setelah panen sangat penting untuk mengembalikan kesuburan tanaman.
Proses ini juga menunjukkan betapa "altruistik"-nya sebuah bunga. Kehidupan individunya (sebagai struktur yang indah) dikorbankan dan diubah total demi keberlangsungan spesiesnya. Kelopak yang layu adalah simbol pengorbanan itu.
Contoh Nyata di Sekitar Kita
Mari lihat dengan mata yang lebih teliti:
Pada Tanaman Cabai: Bunga cabai yang kecil berwarna putih. Setelah serangga menyerbukinya, kelopak bunganya layu dan rontok. Kamu akan melihat bakal buah hijau kecil di pangkalnya. Itulah ovarium yang mulai membesar, perlahan menjadi cabai hijau, lalu berubah warna menjadi merah saat matang. Cabai merah yang ranum itu adalah buah yang siap dimakan burung untuk menyebarkan bijinya.
Pada Pohon Mangga: Malai bunga mangga yang harum semerbak penuh dengan ratusan bunga kecil. Tidak semua akan jadi buah. Banyak yang gugur karena tidak terserbuki. Yang berhasil, akan meninggalkan bakal buah sebesar kacang hijau yang kemudian membesar selama bulan-bulan berikutnya menjadi mangga yang kita nikmati. Bunga-bunga yang gagal akan berserakan di tanah.
Pada Kacang Tanah: Ini contoh yang unik dan sedikit "curang". Bunganya diserbuki di atas tanah. Setelah pembuahan, tangkai putiknya memanjang dan menekuk ke bawah, "menanam" bakal buahnya ke dalam tanah! Buah (yang kita sebut kacang) kemudian berkembang dan matang di bawah permukaan tanah.
Lebih Dari Sekedar Daur Biologis
Memahami apa yang terjadi pada bunga setelah melakukan perkembangbiakan memberi kita perspektif yang lebih dalam tentang siklus kehidupan. Itu mengajarkan bahwa keindahan seringkali adalah fase sementara untuk sebuah tujuan yang lebih besar: kelangsungan hidup. Layunya bunga bukanlah akhir yang menyedihkan, melainkan pertanda dimulainya sebuah investasi besar untuk masa depan.
Jadi, lain kali kamu melihat bunga yang mulai layu di ujung tangkainya, atau melihat bakal buah kecil muncul di pucuk tanaman, ingatlah bahwa kamu sedang menyaksikan sebuah transisi yang monumental. Dari sebuah karya seni alam yang fana, menuju sebuah pabrik kehidupan yang sibuk bekerja, merakit paket-paket genetik baru yang akan menjelajah dunia. Itulah warisan sejati dari sebuah bunga yang telah sukses dalam misi perkembangbiakannya.